Kamis, 29 Oktober 2026

Dzikir Sebelum Tidur

Ada 13 dzikir yang bisa diamalkan sebelum tidur. Semoga tidurnya penuh berkah, dapat ketenangan dan selamat dari gangguan.

[1]

Mengumpulkan dua telapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Kemudian dua telapak tangan tersebut mengusap tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Semisal itu diulang sampai tiga kali.[1]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6)

[2]

Membaca ayat Kursi.

Faedah: Siapa yang membaca ayat Kursi sebelum tidur, maka ia akan terus dijaga oleh Allah dan terlindungi dari gangguan setan hingga pagi hari. [2]

“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)

[3]

Membaca Surat Al Baqarah ayat 285-286.

Faedah: Siapa yang membaca dua ayat tersebut pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah memberi kecukupan baginya.[3]

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ * لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. (QS. Al Baqarah: 285-286)

[4]

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Bismika robbi wadho’tu jambii, wa bika arfa’uh, fa-in amsakta nafsii farhamhaa, wa in arsaltahaa fahfazh-haa bimaa tahfazh bihi ‘ibaadakash shoolihiin.

Artinya: “Dengan nama Engkau, wahai Rabbku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi, apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah (dari kejahatan setan dan kejelekan dunia), sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.” (Dibaca 1 x)

Faedah: Apabila akan tidur, maka hendaklah tempat tidur tersebut dibersihkan karena siapa tahu ada kotoran yang membahayakan di situ, lalu membaca dzikir di atas.[4]

[5]

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

Allahumma innaka kholaqta nafsii wa anta tawaffaahaa, laka mamaatuhaa wa mahyaahaa, in ahyaytahaa fahfazh-haa, wa in ammatahaa faghfir lahaa. Allahumma innii as-alukal ‘aafiyah.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milik-Mu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah (dari berbagai kejelekan). Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan.” (Dibaca 1 x)[5]

[6]

اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

Allahumma qinii ‘adzaabak, yawma tab’atsu ‘ibaadak.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksaanMu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu (yaitu pada hari kiamat).” (Dibaca 1 x).

Faedah: Apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca dzikir di atas.[6]

[7]

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Bismika allahumma amuutu wa ahyaa.

Artinya: “Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” (Dibaca 1 x)[7]

[8]

سُبْحَانَ اللهِ (33×)

الْحَمْدُ لِلَّهِ (33×)

اللهُ أَكْبَرُ (34×)

Subhanallah (33 x)

Alhamdulillah (33 x)

Allahu Akbar (33 x)

Artinya: “Maha suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (34 x).”

Faedah: Bacaan di atas lebih baik daripada memiliki pembantu di rumah. Demikian dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada puterinya, Fatimah dan istri tercintanya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.[8]

[9]

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu[9]. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.”[10]

[10]

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

Alhamdulillahilladzi ath’amanaa wa saqoonaa wa kafaanaa wa aawaanaa, fakam mimman laa kaafiya lahu wa laa mu’wiya.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang memberi makan kami, memberi minum kami, mencukupi kami, dan memberi tempat berteduh. Berapa banyak orang yang tidak mendapatkan siapa yang memberi kecukupan dan tempat berteduh.”[11]

[11]

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy-syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy-syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

Artinya: “Ya Allah, Rabb yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan balatentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang Muslim.”

Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq untuk dibaca pada pagi, petang dan saat akan tidur.[12]

[12]

Membaca “alif lam mim tanzil” (surat As-Sajdah) dan “tabaarokal ladzii biyadihil mulk” (surat Al Mulk).[13]

[13]

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

Allahumma aslamtu nafsii ilaik, wa fawwadh-tu amrii ilaik, wa wajjahtu wajhiya ilaik, wa alja’tu zhohrii ilaik, rogh-batan wa rohbatan ilaik, laa malja-a wa laa manjaa minka illa ilaik. Aamantu bikitaabikalladzi anzalta wa bi nabiyyikalladzi arsalta.

Artinya: “Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus.” Apabila Engkau meninggal dunia (di waktu tidur), maka kamu akan meninggal dunia dengan memegang fitrah (agama Islam)”.

Faedah: Jika seseorang membaca dzikir di atas ketika hendak tidur lalu ia mati, maka ia mati di atas fithrah (mati di atas Islam).

____

[1] HR. Bukhari no. 5017 dan Muslim no. 2192.

[2] HR. Bukhari no. 3275

[3] HR. Bukhari no. 4008 dan Muslim no. 807.

[4] HR. Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714.

[5] HR. Muslim no. 2712.

[6] HR. Tirmidzi no. 3398 dan Abu Daud no. 5045. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengkritik tentang penyebutan dzikir ini tiga kali. Yang tepat riwayat tersebut tanpa penyebutan tiga kali. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 2754, 6: 588.

[7] HR. Bukhari no. 6312 dan Muslim no. 2711.

[8] HR. Bukhari no. 3705 dan Muslim no. 2727.

[9] Maksud “فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ” adalah kiasan akan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Walaupun Allah itu Maha Tinggi, akan tetapi Allah begitu dekat. Ketinggian Allah tidak menafikan kedekatan Allah. (Lihat Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, hal. 113)

[10] HR. Muslim no. 2713.

[11] HR. Muslim no. 2715.

[12] HR. Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi).

[13] HR. Tirmidzi no. 3404. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan.

[14] HR. Al-Bukhari no. 6313 dan Muslim no. 2710.

—

Sumber: https://rumaysho.com/1683-dzikir-sebelum-tidur205.html

Tata Cara Mandi Wajib

KITAB THAHARAH (PERIHAL BERSUCI)


Oleh : Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
3. Mandi
a. Hal-Hal Yang Mewajibkannya:
1. Keluar mani, baik saat terjaga ataupun tidur
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.
“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [1]
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau berkata, “Ya, jika dia melihat air.” [2]
Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.
Berdasarkan sabda beliau:
إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.
“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.”[3]
Asy-Syaukani berkata, [4] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata, “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”
Barangsiapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barangsiapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani) sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab, ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab, ‘Dia tidak wajib mandi’.” [5]
2. Jima’, walaupun tidak keluar air mani
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.
“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi. Meskipun tidak keluar air mani.” [6]
3. Masuk Islamnya orang kafir
Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [7]
4. Terputusnya haidh dan nifas
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:
إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.
“Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [8]
Nifas dan haidh dihukumi sama secara ijma’.
5. Hari Jum’at
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [9]
b. Rukun-Rukunnya:
1. Niat
Berdasarkan hadits:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”
2. Meratakan air pada sekujur badan.
c. Tata Cara Yang Disunnahkan Ketika Mandi
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi janabah (junub), beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya.” [10]
Catatan:
Tidak wajib bagi seorang wanita mengurai rambutnya ketika mandi janabah (junub). Namun wajib dilakukan ketika mandi sehabis haidh.
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau berkata:
لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.
“Tidak, cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [11]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi setelah selesai haidh. Beliau lalu bersabda,
“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -ed.) dengan sebaik-baiknya.
Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata, “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik, “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”
Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau tentang mandi (junub) janabah. Beliau lalu bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.
“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [12]
Dalam hadits ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haidh dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haidh agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada mandi janabah tidak ditekankan hal tersebut. Dan hadits Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [13]
Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haidh yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.
Catatan:
Diperbolehkan bagi suami isteri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.
“Aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [14]
d. Mandi-Mandi Yang Disunnahkan:
1. Mandi pada setiap selesai jima’
Berdasarkan hadits Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir isteri-isterinya. Beliau mandi setiap selesai dari fulanah dan dari si fulanah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau berkata, “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [15]
2. Mandinya wanita mustahadhah (yang sedang haidh) setiap akan shalat
Atau sekali mandi untuk shalat Zhuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Shubuh sekali mandi.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. lalu Beliau menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [16]
Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata, “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zhuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Shubuh. [17]
3. Mandi setelah pingsan
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit parah. Beliau lalu berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadits ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [18]
4. Mandi setelah menguburkan orang musyrik
Berdasarkan hadits ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm dan berkata, “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau berkata, “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Mandilah.” [19]
5. Mandi pada dua hari raya dan hari ‘Arafah
Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata, “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyari’atkan dalam agama-pent).” Dia berkata, “(Mandi) hari jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”
6. Mandi setelah memandikan mayat
Berdasarkan sabda beliau:
مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.
“Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [20]
7. Mandi untuk ihram ‘umrah atau haji
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, “Dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [21]
8. Mandi ketika memasuki kota Makkah
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya. [22]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122).
[2]. Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82).
[3]. Nailul Authaar (I/275).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348).
[6]. Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351).
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafazh mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”
[8]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089).
[9]. Muttafaq ‘alaihi.
[10]. hahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603).
[11]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)).
[12]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[13]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[14]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129).
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590).
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289).
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184).
[18]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687).
[19]. Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198).
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463).
[21]. Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831).
[22]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854).
 .

Read more https://aslibumiayu.net/6004-tata-cara-mandi-wajib-banyak-juga-yang-belu-tahu-caranya.html

Kamis, 23 Mei 2019

Flashdisk Rusak? Coba Cara Ini

Hasil gambar untuk flashdiskHasil gambar untuk flashdisk

Pernahkah anda mengalami bahwa flashdisk yang Anda gunakan tidak dideteksi oleh komputer? Atau file dalam flashdisk dihidden ataupun berubah jadi Shortcut? Atau flashdisk selalu minta diformat? Atau bahkan berisi virus yang sangat banyak dan susah dihapus.

Inilah jenis – jenis kerusakan yang umum terjadi pada flashdisk. Kerusakan flashdisk sangatlah bermacam - macam, tidak dideteksi oleh komputer, tidak dapat dibuka, tidak mempunyai isi, selalu minta diformat adalah beberapa kerusakan yang terjadi pada flashdisk.

Kerusakan ini umumnya disebabkan oleh virus yang sangat bermacam - macam juga jenisnya. Virus dapat menyembunyikan, menduplikasi, menghapus file atau folder di dalam flashdisk, atau juga flashdisk memang sudah rusak("corrupt").
Jadi kita harus dapat mengenali apakah karena terinfeksi virus atau memang sudah corrupt/rusak.

Berikut ini akan saya bagikan tips memperbaiki flashdisk ditinjau dari beberapa kasus kerusakan yang sering terjadi.

Artikel ini menyajikan cara manual yang terlengkap karena telah dikumpulkan dari banyak sumber serta telah dikaji ulang.


Silahkan disimak beberapa jenis kerusakan dan cara mengatasinya.

A. Flashdisk Tidak Bisa Diformat
Sebelum melakukan langkah - langkah berikut, terlebih dahulu flashdisk ditancapkan pada komputer dengan OS Windows XP, 7 atau 8.

  • Masukkan flashdisk ke dalam port USB laptop/CPU
  • Klik Start kemudian pilih Run.
  • Ketikkan "compmgmy.msc" (tanpa tanda petik).
  • Setelah itu akan muncul program bernama "computer management"
  • Pilih storage yang berada di tengah, setelah itu pilh "Disk Management"

          Disini flashdisk Anda akan terdeteksi.

  • Jika flashdisk sudah terdeteksi, selanjutnya klik kanan pilih "Create Partition"
  • Klik kanan, lalu pilih "Format" maka flashdisk telah selesai diformat


Jika langkah diatas belum bisa, lakukan langkah berikut:


B. Tidak bisa diformat karena Write Protection
Biasanya flashdisk tidak bisa diformat dikarnakan terdapat Write Protection di dalamnya. Maka kita harus menghapusnya terlebih dahulu sebelum bisa diformat.

  • Tekan tombol Window + R
  • Pilih perintah "regedit"(tanpa tanda petik) lalu tekan Enter.
  • Kemudian akan muncul kotak dialog baru, lalu tekan Ctrl+F.
  • Ketik tulisan "write protectid" (tanpa tanda petik) pada kotak searching, pilih Find Next dan segera hapus jika menemukan keterangan "Write Protected". Caranya: klik kanan, lalu pilih hapus.
  • Jika muncul kotak dialog Konfirmasi, tekan OK untuk menyetujui.
  • Write Protected sudah terhapus dan mobile kembali sudah membaik.
  • Tutup dialog Registri Editor, cabut flashdisk kemudian restart komputer Anda.

Jika langkah diatas sudah anda lakukan dengan benar biasanya flashdisk sudah bisa dipakai kembali.

C. Flashdisk Corrupt atau Badsector
Cara I: Menggunakan CMD (Command Prompt)

  • Buka CMD (klik Start - Run - ketik CMD - Enter)
  • Tancapkan flashdisk yang rusak
  • Ketik FORMAT H: /FS:FAT
  • Enter.

Cara II: Menggunakan fitur windows Check Disk

  • Tancapkan flashdisk, kemudian buka Windows Explorer
  • Klik kanan flashdisk, pilih Properties - Tools - Check Now
  • Centang kedua option yang ada.
  • Maka akan otomatis diselesaikan


Inilah beberapa tips untuk memperbaiki kerusakan flashdisk secara manual tanpa bantuan software, cara ini sangat mudah untuk anda pelajari.

Perlu diketahui, flashdisk juga mempunyai kualitas yang berbeda - beda, jadi teliti saat membeli. Penting untuk membeli flashdisk yang original dan kapasitasnya tidak terlalu kecil, misalnya 2GB, atau terlalu besar misalnya 16 GB sehingga jika rusak tidak terlalu rugi.

Tips tambahan: untuk keamanan data anda, jangan menyimpan terlalu banyak data di flashdisk, karena itulah menyebabkan flashdisk cepat rusak dan lambat saat mentransfer data.

Sekian, semoga bermanfaat.


Sumber: www.tifkom.net/2014/11/cara-memperbaiki-flashdisk-yang-rusak.html